MENGATASI EMOSI NEGATIF

Ilustrasi
Emosi dalam Kamus bahasa Indonesia mempunyai arti luapan perasaan yang berkembang dan surut dalam waktu singkat; atau keadaan dan reaksi psikologis dan fisiologis (seperti kegembiraan, kesedihan, keharuan, kecintaan (keberanian yang bersifat subjektif)). Emosi menurut N.H. Frieda (dalam bukunya yang berjudul Moods, Emotion Episodes and Emotions) adalah perasaan intens yang ditujukan kepada seseorang atau sesuatu dan reaksi terhadap seseorang atau kejadian. Kata "emosi" diturunkan dari kata bahasa Prancis, émotion, dari émouvoir, 'kegembiraan' dari bahasa Latin emovere, dari e- (varian eks-) 'luar' dan movere 'bergerak'. Dari pengertian di atas dapat dikatakan bahwa emosi merupakan gejala atau reaksi seseorang terhadap orang lain atau sesuatu.

Orang Kristen yang sehat emosinya ialah orang yang ‘sadar’ akan emosinya. Sadar akan emosinya bukan berarti menahan / mengabaikan / menekan / menyimpan dalam hati tetapi menyadari bahwa emosi yang negatif itu sebagai pemicu untuk bertumbuh secara rohani melalui pembaharuan dalam cara berpikir setiap hari. Ada tiga emosi negatif yang mendasar, yaitu
1.  Kemarahan
Ilustrasi
adalah reaksi terhadap ‘sasaran’ yang terhalang.
Ada tiga hal yang menyebabkan kemarahan, yaitu
-       Frustasi. Kita tidak memperoleh apa yang kita inginkan berkenaan dengan rencana-rencana kita.
-       Penghinaan. Kita tidak memperoleh apa yang kita inginkan berkenaan dengan status kita. Kita seperti “kehilangan muka” dan merasa telah kehilangan perasaan dihargai.
-       Penolakan. Kita tidak memperoleh apa yang kita inginkan berkenaan dengan “kasih: kita. Kita tidak lagi merasa aman dan dihargai.
Dalam firman Tuhan dijelaskan bahwa kemarahan tidak selalu menunjukkan cara berpikir yang salah. Tuhan Yesus sendiri pernah marah karena dosa yang dilakukan oleh manusia (Matius 20:24; Markus 3:5; 8:33; 10:14). Marah yang benar itu terkendali dan beralasan (tidak mementingkan diri sendiri, tidak memendam kebencian, atau sakit hati). Karena marah yang benar itu bertujuan untuk menentang tindakan atau keadaaan yang salah, dan bukan menentang pribadi, maka marah itu haruslah diikuti dengan tindakan yang membangun untuk memperbaiki kesalahan tersebut. Mengatasi kemarahan yang ada pada kita tidaklah mudah tetapi dapat dilatih dengan cara "membiarkan" diri kita untuk tenang dan menanggapi masalah dengan "kepala dingin". 

2.  Depresi
Ilustrasi
adalah akibat dari ‘sasaran’ yang tidak tercapai.
Depresi dapat diakibatkan oleh keadaan-keadan fisik seperti diet yang salah, kurang istirahat, atau reaksi terhadap obat-obatan tertentu. Depresi juga dapat disebabkan oleh ketidakseimbangan biokimia, gangguan hormonal atau infeksi. Atau mungkin disebabkan oleh kematian orang yang kita kasihi, kehilangan pekerjaan, atau kesempatan lain. Depresi juga dapat disebabkan oleh rasa bersalah karena dosa dan lain-lain. Depresi disebabkan serangan dari dalam diri kita sendiri. Kita menghakimi diri kita bahwa kita sudah gagal, dan bahwa kegagalan ini dapat menghancurkan harga diri kita. Kemudian mengambil kesimpulan bahwa kita tidak berharga. Orang seperti ini akan kehilangan perspektif dan menarik diri dari orang lain.
Mengatasi rasa depresi kita perlu mengevaluasi diri apakah kita sedang berusaha untuk diterima orang lain melalui penampilan, prestasi, atau status kita. Selain itu kita perlu menggantikan pemikiran yang negatif mengenai nilai kita dengan kebenaran-kebenaran bahwa Allah yang penuh kasih menerima kita sepenuhnya, karena Ia adalah ALLAH yang setia dan adil.
 “Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau” 
Yesaya 43:4

3.  Kecemasan
Ilustrasi
adalah ‘sasaran’ yang tidak pasti; perasaan ngeri atau gelisah, tetapi tidak seperti rasa takut, kecemasan mungkin timbul tanpa alasan yang jelas.
Kecemasan timbul akibat dari tolak ukur yang tidak realistis yang ditentukan oleh orang lain atau oleh kita sendiri. Kita dapat melihat bahwa penyebab dari rasa cemas ini berhubungan dengan cara berpikir yang salah atau salah dalam memilih tidakan atau perilaku kita.
Kesadaraan akan adanya rasa cemas dalam situasi tertentu dapat merupakan petunjuk terhadap asumsi-asumsi yang kita buat berkenan dengan hal-hal yang menyebabkan kita merasa diterima dan dihargai.
Jadi, janganlah kamu mempersoalkan apa yang akan kamu makan atau apa yang akan kamu minum dan janganlah cemas hatimu.
Semua itu dicari bangsa-bangsa di dunia yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu tahu, bahwa kamu memang memerlukan semuanya itu.
Tetapi carilah Kerajaan-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan juga kepadamu.
Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu.
Lukas 12:29-32



Dengan mengenal emosi yang dialami, kita dapat menentukan apakah kita sedang bereaksi terhadap sasaran yang terhalang, sasaran yang tidak pasti atau sasaran yang kita anggap tidak tercapai. Hal ini dapat menolong kita untuk menunjukkan secara tepat sasaran dibalik perilaku atau tindakan yang kita pilih.
Sumber: Majalah Kalam Hidup Edisi Januari 2011
Editor: Ronald TP. Sinaga U.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar